Showing posts with label intelektual Maroko. Show all posts
Showing posts with label intelektual Maroko. Show all posts

Friday, April 4, 2008

Dunia Intelektual Maroko-2

“Kalau anda mengalami penipisan rasa kebangsaan, cobalah tinggal beberapa lama di luar negeri”. Aku merasa lebih menjadi Indonesia selama di Maroko. Setidaknya, Aku pernah ziarah ke Saudi Arabia, Mesir dan Iran. Dari pengalamanku yang secuil di negeri-negeri ini ditambah obrolan dengan beberapa kawan di Belanda dan Perancis, aku menemukan rasa keindonesiaan begitu kental di kalangan masyarakat Indonesia di luar negeri. Kalau disuruh memilih, terus tinggal di luar atau kembali ke tanah air, aku yakin akan lebih banyak yang mengambil pilihan kedua.

Di luar, kami masih lebih suka berbahasa Indonesia, masih setia makan nasi, senang sekali berkumpul di acara-acara kemasyarakatan Indonesia, lebih memilih makan bakso, rendang, empek-empek, nasi uduk, nasi pecel, mie ayam, mie kocok, sate madura, sate padang dan lain-lain, ketimbang pizza, hamburger, steak, kfc, tagize, harira, kebab, tamis, dan seterusnya. Beberapa kawan justru baru bisa main gamelan, tari saman, pencak silat dll setelah belajar di Maroko. Kalau ada acara hiburan di KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia), lagu-lagu dangdut selalu meledakkan suasana heboh.

Di Maroko, Aku betul-betul merasakan kehangatan keluarga besar Bangsa Indonesia. Di sini tidak ada sekat-sekat partai politik, organisasi keagamaan, latar kultural, suku dan asal daerah. Semuanya seperti anak ayam yang dirangkul nyaman oleh induk yang bernama Bangsa Indonesia, dengan satu bahasa Indonesia dan membayangkan masa depan di Indonesia. Kami, para mahasiswa Indonesia di Maroko, bergabung dalam satu organisasi PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) Maroko. Sejak tahun pertama di Maroko, Aku terlibat aktif di organisasi ini.

Di awal aktifitasku di PPI Maroko, Aku diserahi tugas mengawal Buletin La Mediterranee yang terbit bulanan. Mengawal penerbitan La Mediterranee membuatku memahami simpul-simpul tokoh dan pemikiran Maroko atau, jika diperluas, “al-Garb al-Islami”, satu istilah yang di Maroko lazim dipakai untuk menunjuk wilayah yang mewarisi kejayaan peradaban Islam yang berpusat di Andalusia meliputi Spanyol, Maroko, Aljazair, Tunisia, Libya dan Mauritania. Selama sekitar setahun mengelola buletin ini, aku merambah hampir semua wilayah keilmuan Islam mulai dari tafsir, hadits, ushul fiqh, filsafat, tasawuf, fiqh siyasah sampai fiqh perempuan.

Dunia intelektual Arab-Islam kontemporer memang mengakui Maroko sebagai gudang para pemikir dan penulis produktif. Sebutlah misalnya, al-Jabiri di kritik nalar, Salim Yafut di epistemologi, Abdul Majid as-Sugair di relasi kekuasaan versus pengetahuan, Muhammad Sabila di modernitas, Abdussalam Benabdelali di filsafat kontemporer, Abdullah al-Arawi di sejarah, Taha Abdurrahman di filsafat bahasa dan akhlak dan Ali Omleil di sosiologi. Aku pernah menulis di Jurnal Islam BK-PPI (Badan Kerjasama Perhimpunan Pelajar Indonesia) se-Timteng dan Sekitarnya tentang pemikiran filsafat di Maroko. Ternyata, hanya dalam empat puluh tahun, Maroko sudah bisa melahirkan pemikir-pemikir berkaliber internasional.

Ini baru di wilayah filsafat. Maroko juga punya futurolog. Namanya: el-Mehdi el-Manjra. Sebenarnya, sinyal tentang benturan peradaban yang membuat dunia goncang sekarang ini lebih dulu muncul darinya ketimbang Samuel Huntington. Hanya visi mereka beda: el-Manjra untuk menghindari, tetapi Huntington untuk mengompori. Dalam prediksinya, masa depan Eropa akan ada di tangan umat Islam. Ia juga mengatakan Arab memerlukan revolusi sekarang ini, sebab jika tidak bangsa Arab akan membayar ongkos sangat mahal karena segalanya sudah terlambat. Tokoh yang lebih banyak menghabiskan usianya di Amerika, Jepang dan Perancis ketimbang di negaranya sendiri ini sangat produktif mengeluarkan karya-karya yang menyerang sengit negara-negara kolonial lantaran penghinaan-penghinaan ekonomi, politik, kebudayaan dan nilai yang gencar mereka lancarkan kepada dunia ketiga sampai sekarang ini.

Tentu anda cukup familiar dengan Fatima Mernissi. Tokoh perempuan ini betul-betul membuktikan jargonnya, “menulis adalah obat awet muda paling mujarab”. Belum lama, ia mendapatkan penghargaan kesastraan dan kebudayaan dari Belanda. Karyanya tak pernah berhenti mengalir. Ternyata tokoh-tokoh perempuan lain, tidak kalah hebat. Kita bisa menyebut misalnya, Raja’ Naji Mukawi, pakar hukum keluarga; Aisyah al-Hijami, pakar ilmu maqashid dan Farida Zamrou, ulama perempuan yang belakangan serius meng-counter karya-karya Nasr Hamid Abu Zayd. Mereka adalah tiga ulama perempuan yang mendapat kehormatan menyampaikan ceramah di Majelis Raja Maroko pada Bulan Ramadlan yang disebut: ad-Durus al-Hasaniyah dengan pembicara tokoh-tokoh ulama dari seluruh dunia Islam.

Kebetulan sekarang ini Aku menulis Disertasi tentang ad-Durus al-Hassaniyah ini dengan fokus pada durus ulama-ulama Maroko. Kalau dulu ketika di Ma’had Aly Situbondo, Aku baru tahu sebatas nama al-Qurthubi, Ibnu al-Arabi Mufassir, Ibnu Arabi Sufi, Ibnu Rusyd, Ibnu Khaldun dan as-Syathibi sebagai ulama dari kawasan kejayaan peradaban Islam di Andalusia, kini Aku mengenal semakin banyak nama, pemikiran dan horizon intelektual kawasan ini. Setelah di Maroko, Aku baru mengenal nama-nama ulama semacam Abu Madyan (sufi amali), Qadli Iyadl (muhaddits, mufassir), Ibnu Abdil Barr (muhaddits), Ibnu Athiyah (mufassir), Imam Sahnun (faqih); atau yang lebih belakangan: Abu Hasan al-Yusi (ensiklopedis, salah seorang pensyarah Jam’ul Jawami’), Thahir Bin Asyur (mufassir), Allal al-Fasi (tokoh kemerdekaan dan ensiklopedis keilmuan Islam Maroko); atau yang lebih gress lagi Ahmad ar-Raisuni (pakar maqashid), Muhammad ar-Rougi (Faqih), keluarga Bin as-Shiddiq (keluarga muhaddits, tinggal di kota Tanger), Syekh Hamzah (guru spiritual Tarekat Qadiriyah Butsyisyiah), Ahmad Taufiq (sejarawan) dan masih banyak lagi.

Satu nama lagi yang tidak boleh dilupakan: Ibnu Batutah, petualang besar yang mampir dua kali di nusantara dalam perjalanannya ke China dan kembali ke Maroko. Kisah perjalanannya keliling dunia itu, dituangkannya dalam kitab Rihlah Ibnu Batutah. Kitab ini sekarang menjadi lebih lengkap setelah di-tahqiq oleh Dr. Abdul Hadi at-Tazi, sejarawan Maroko, mantan Duta Besar Maroko di Irak. Apa yang dilakukan oleh Vasco de Gama atau Christopher Columbus untuk kasus Eropa, sebenarnya telah didahului oleh petualangan para pejuang dan ulama Islam. Inilah salah satu sebab, mengapa Islam begitu cepat merambah dunia. Lagi-lagi Maroko menyertakan nama besar dalam bidang ini.

Maka ketika Kepala Pusdiklat Departemen Luar Negeri RI berkunjung ke Maroko, Aku sangat bersemangat mengusulkan lembaga bersama penelitian Islam Indonesia-Maroko. Banyak bukti hubungan Indonesia Maroko tidak sekedar hubungan diplomatik, tetapi intelektual dan keagamaan. Misalnya, kitab al-Ajrumiyah, yang dikarang ulama Maroko Syekh Shanhaji itu, sangat akrab dengan kalangan pesantren di Indonesia. Tarekat Tijaniyah yang berpusat di Fes memiliki banyak pengikut di Indonesia. Ciri khas keberagamaan yang moderat, seimbang dan toleran sama-sama berlaku di Maroko dan Indonesia. Banyak hal yang harus dipelajari bersama untuk menguatkan hubungan persahabatan kedua negara untuk memberikan model Islam yang selalu sesuai dengan perkembangan dunia.

Kalangan perguruan tinggi Islam di Indonesia kelihatannya perlu mulai serius meneliti kekayaan intelektual Islam di Maroko untuk memperkaya studi Islam di Indonesia. Siapa mau memulai?

Plambik, 19 Juni 2007

Dunia Intelektual Maroko-1

Ketika Aku mendapat konfirmasi lulus seleksi beasiswa S2 ke Timur Tengah dari IAIN Sunan Ampel Surabaya, Aku seperti terbang. “Terima kasih, ya Allah. Engkau beri hamba jembatan emas ke masa depan”. Aku seperti anak panah yang lepas dari busurnya. Segera berjumpalitan di kepalaku, angan-angan yang lama terpendam karena situasi pesantren yang tidak memungkinkan aplikasinya.

Aku betul-betul terbang dengan pesawat Gulf Air dari Jakarta ke Casablanca. Selama 16 jam perjalanan udara itu, Aku masih seolah tak sadar, “benarkah Aku bisa kuliah S2 ke luar negeri dengan biaya Negara?”. Aku mulai merunut satu-satu apa yang ingin Aku kejar. Aku ingin terus cerdas secara intelektual. Aku ingin mahir betul berbahasa Arab. Aku ingin lepas dari belitan-belitan kultural yang menghadang pemuaian kapasitas intelektualku. Aku ingin bisa berbahasa Perancis. Aku ingin mendalami pemikiran Islam kontemporer. Aku ingin tahu lebih banyak tentang al-Jabiri. Banyak sekali yang Aku inginkan. Aku tidak pernah ingin hanya sekedar secara formal mendapat ijazah S2 semata.

Memang hanya dua nama yang Aku kenal saat-saat sebelum Aku berangkat ke Maroko: Mohamed Abed al-Jabiri dan Fatima Mernissi. Saat itu, al-Jabiri sedang ramai sekali diperbincangkan di kalangan Intelektual Islam Indonesia. Trilogi Kritik Nalar Arab-nya mendapat apresiasi dimana-mana, terutama di kalangan anak muda NU anti kemapanan. Sementara itu, Fatima Mernissi banyak disebut kalangan feminis Islam karena pembelaannya terhadap kaum perempuan dengan menunjukkan apa yang mereka sebut sebagai sikap misoginis dari teks-teks agama terhadap perempuan.

Aku yang lama di pesantren mengalami semacam kebingungan di tengah dua tradisi intelektual yang tarik menarik. Di satu sisi, setiap terlibat diskusi dengan kawan-kawan mahasiswa di luar pesantren semangat pemberontakan atas rigiditas kaum elit pesantren terasa sangat kuat, namun ketika harus kembali terbenam dalam rutinitas dan pelukan budaya pesantren, semangat itu seperti lahar yang dipendam Gunung Merapi yang tidak jadi meledak. Alhasil, kejutan bisa lolos melanjutkan belajar ke Maroko betul-betul Aku rasakan sebagai jalan keluar amat manis dari kondisi saat-saat ujung Aku di Pesantren yang jauh lebih banyak menggelisahkan ketimbang menenteramkan.

Ternyata, apa yang Aku temukan di Maroko, tidak sepenuhnya seperti apa yang Aku bayangkan sejak awal. Dalam semangat memburu lebih jauh tentang al-Jabiri, pertama kali, Aku terhenyak dengan buku tebal Karya George Tharabsyi, dengan bendera “Kritik atas Kritik Nalar Arab”. Untuk mengkritik satu buku al-Jabiri: Takwin al-Aql al-Arabi saja, George meluncurkan tiga buku. Ia membaca buku al-Jabiri, buku-buku yang dibaca al-Jabiri dan buku-buku yang seharusnya dibaca al-Jabiri tetapi tidak dibacanya. Hasilnya dahsyat sekali, ia menguliti, menunjukkan bolong-bolong dan memberi pikiran tandingan yang melampaui klaim-klaim al-Jabiri dalam Trilogi Kritik Nalar Arab-nya. Semangat awalku menjadi terevisi.

Kesempatan belajar di Maroko memang membuka cakrawalaku luas sekali. Aku tidak hanya bisa membaca al-Jabiri, tetapi juga kontra al-Jabiri; tidak hanya membaca Fatima Mernissi tetapi juga kontra Mernissi; tidak hanya membaca karya-karya yang menyerang Abu Hurairah misalnya, tetapi juga karya selevel yang membela Abu Hurairah. Ternyata, kebanggaan sekedar memberontak yang ramai diadopsi kalangan anak-anak kampus Islam sebelum Aku berangkat ke Maroko, mengidap kelemahan yang sangat fatal. Belum lagi menguasai betul karya-karya tokoh-tokoh acuan untuk memberontak tradisi, karya tandingannya yang tidak kurang mendalam hampir tak tersentuh. Aku yang hampir tergerus arus pemberontakan anak-anak muda itu, harus merevisi pandangan-pandanganku sendiri, menyadari betapa banyak sekali informasi pengetahuan yang belum Aku lahap.

Akupun menyusun ulang langkah-langkah ke depan. “Kecelakaan” diterima di jurusan Akidah Filsafat Universitas Qarawiyyin dari keinginan semula untuk mengambil jurusan Fiqh-Ushul Fiqh, mengantarkan Aku untuk menyusun ulang kepingan pengetahuan filsafatku yang berserak-serak; memberiku kesempatan untuk menimba langsung pengetahuan turats Islam dari ulama Maroko, dosen-dosenku di Fakultas Ushuluddin Universitas Qarawiyyin. Aku belajar Tafsir dari Dr. Idriss Khalifah; Hadits dari Syekh Abdullah Bin Shiddiq; Ilmu Sosial dari Dr. Abdussalam al-Gannouni; Ilmu Kalam dari Dr. Muhammad Benyaisy; Filsafat dari Dr. Abdullah as-Syarif; profil pemikir Islam dari Dr. al-Murabith at-Tirgi.

Aku sangat terkesan dengan kehangatan dosen-dosenku itu. Tidak jarang jika berpapasan mereka dulu yang menyapa kita. Kalau kita punya kepentingan, mereka dengan akan tekun mendengar ‘curhat’ kita. Hampir tidak pernah terdengar kata ‘tidak’, jika kita meminta sesuatu. Bahkan Dr. Abdullah As-Syarif membuka pintu rumah dan ruang perpustakaan pribadinya untuk melayani hasrat keingintahuan murid-murid asingnya dari Indonesia ini. Dr. Bensyaiy, sekali seminggu mengajak kita untuk ikut majelis zikir-nya di Zawiyah Qadiriyah Butsyisyiah. Aku jadi betah dengan suasana yang ramah ini. Berbeda sekali dengan jarak hirarkis yang tebal antara santri dan kiai di pesantrenku sebelum Aku ke Maroko.

Di luar ruang kuliah, Aku terus memantau perkembangan wacana intelektual di tingkat nasional Maroko. Toko buku al-Edrissi di Tetouan atau Darul Aman di Rabat, selalu menjadi langgananku untuk sekedar memantau buku baru, jika tidak tersedia cukup uang untuk membeli. Di samping itu, buku-buku saku seratusan halaman juga ramai dipajang di lapak-lapak koran-majalah pinggir jalan. Sejauh amatanku, intensitas peluncuran wacana baru di dunia intelektual Maroko, cukup tinggi. Selalu saja ada buku baru yang diluncurkan setiap bulan. Lebih dari tiga tahun terakhir, al-Jabiri meluncurkan serial buku “Mawaqif” yang memuat apresiasinya terhadap kejadian-kejadian baru di dunia Arab-Islam dan Internasional. Kita terus bisa bertemu al-Jabiri setiap bulan dengan pikiran-pikiran segarnya lewat serial itu.

Mereka memang berkarya total di dunia yang menjadi keahliannya. Tidak tergoda untuk lompat-lompat ke dunia lain, politik misalnya. Urusan pimpinan tertinggi negara memang sudah final di negeri ini dengan sistem kerajaannya. Namun lebih dari itu, ruang untuk berekspresi tersedia cukup bagus, apalagi setelah Raja Muhammad VI naik tahta, tahun 1999. Lebih dari itu, kesejahteraan dosen juga sangat memadai untuk hidup lebih dari cukup dengan fasilitas yang memadai juga. Rata-rata, dosen PT bergaji 10000 dirham Maroko (setara 10 juta rupiah) dengan pengeluaran 5-6 ribu dirham perbulan. Maka tidak heran jika mereka ‘enjoy’ sekali dengan dunia membaca, meneliti, menulis dan mengeluarkan karya serius dan berkualitas.

Aku ingin cerita satu-satu tokoh-tokoh intelektual Maroko. Tunggu terus serial BIM ini. Insya Allah, nanti Aku cerita lebih rinci.

Plambik, 23 Mei 2007